(KIM Mayangsari) Seorang lelaki berjaket abu- abu sedang mengantarkan membawa nampan putih, terdapat 9 gelas diatasnya yang terdiri dari beberapa macam minuman, dari kopi, susu, dan es Joshua. Menaruhnya di atas meja anak nongkrong, “tambah kopi item dua ya Mas, Indomie gorengnya satu!” kata mereka.

Lelaki itu bernama Roma, salah satu warga Desa Pesanggrahan yang sudah mempunyai ijin usaha dagang di stand Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Mayangsari milik Desa Pesanggrahan. Pada awalnya saat bertempat di parkiran Balaikota Among Tani, Roma memperjualbelikan accessories seperti kaos bergambar kota Batu, jas hujan, dan lain lainnya, tapi minat pembelinya kurang.

Tempat usaha ini sudah difungsikan oleh BUMDES Pesanggrahan mulai tahun 2017 sampai sekarang. Dalam perjalanannya, tempat dagang dipindahkan ke jalan menuju komplek belakang balaikota ‘Among Tani’ kota Batu.

Mengetahui dagangannya sepi pembeli, Roma mengajak sepupunya bernama Lukman untuk bekerjasama. Dengan perhitungan peluang laba dari hasil berdagang kopi dirasa lebih lancar daripada berjualan acessories maka keduanya memutuskan untuk membuka usaha warung kopi yang dinamakan ‘WARKOPDAR’. Berdiri diatas stand pertama berpayung tenda warna hijau bertuliskan BUMDES Mayangsari Pesanggrahan.

Lahan dagang yang khusus ditujukan bagi warga Desa Pesanggrahan ini sekarang sudah menjadi tempat nongkrong yang nyaman untuk semua kalangan, hal ini dikarenakan suasana yang tenang dengan banyak sinar lampu yang menyala dari daerah- daerah sekitaran kota Batu.

Reza, seorang mahasiswi Perguruan Tinggi Negeri di Malang membilang, “Saya sering kesini sama teman- teman sekitar 10 orang, pertama kali tau ada tempat nongkrong disini karena dulu ke pasar durian di parkiran balaikota Batu, sampai akhirnya kami tau ada tempat ngopi lesehan dengan pemandangan sinar lampu mirip kilau bintang, nyaman sekali, harga kopinya pun cocok bagi kantong mahasiswa seperti kami. Sejak saat itu, kalau saya dan teman- teman ke Batu jadi lebih sering kesini.”

Lukman mengatakan bahwa pendapatan terbesar biasanya diperoleh saat hari sabtu, ataupun ketika ada event yang diadakan di Balaikota, “pada hari sabtu banyak anggota klub motor ‘kopi darat’ disini, juga pada saat ada event, biasanya kami bisa menyajikan minuman sampe kurang lebih 300- 500 gelas. Itu karena kami sudah buka warung dari setelah maghrib sampe jam empat pagi.”

Bila dilihat dari plat nomer kendaraan yang diparkir di ujung ke ujung jalanan depan stand warung kopi, para remaja yang nongkrong berasal dari berbagai kota di Jawa Timur, mulai dari anak Batu sendiri sampai dari daerah lain seperti Malang, Sidoarjo, Madiun, Tulungagung, Trenggalek dan lain sebagainya.

Di hampir setiap hari Sabtu, sepeda motor model 70-an berjajar rapi di kiri jalan, di trotoar jalan masuk hotel Panorama terparkir dengan rapi motor modifikasi, di sisi jalan lainnya terdapat klub sepeda motor matic. “Komunitas yang paling sering datang biasanya klub motor 70 an, Vespa, Beat, CB, Mio, Ninja, sampai klub mobil seperti Toyota Starlate, dan Charade,” ujar Lukman.

Seorang pemuda berkumis tipis sedang menyeruput kopi hitam. Pemuda itu bernama Poyo, 27tahun, mengaku bila sering nongkrong disana. “Saya lebih sering nongkrong disini, karena jaraknya dekat dari rumah. Tempat saya nongkrong ya di ‘WARKOPDAR’ dan warung pangsit mie milik Ibu RW 4, karena harga yang  ekonomis dan porsi mie yang cukup banyak. Saya akan merekomendasikan teman- teman untuk nongkrong disini, karena tempatnya nyaman dengan view Batu daerah utara dan suasana yang santuy”.

Langkah BUMDES Mayangsari Pesanggrahan untuk membuka lahan yang diperuntukkan untuk dagang bagi warga pesanggrahan ini dianggap Poyo sebagai hal yang punya dampak bagus untuk warga Pesanggrahan sendiri, “ini dapat membantu anak- anak muda ataupun warga masyarakat Pesanggrahan untuk mengangkat perekonomian warga, kalau klub- klub motor yang sering nongkrong disana juga bagus, selama mereka selalu melakukan hal yang positif,  dengan adanya mereka juga membantu (penjualan) para pedagang disini juga,” tutupnya.

Seorang lelaki, bernama Misbah, 26th, sering ke warkopdar bisa sampai 7 kali dalam seminggu, Susu Dancow coklat dan Indomie goreng dobel adalah menu yang paling sering dipesannya. Misbah juga sering membeli jajanan ringan seperti tempura dan sempol yang dijual di stand tengah milik saudari Fathia, warga jalan Lahor.

Menurutnya, suasana disini cukup tenang pada hari- hari biasa, “kalau hari sabtu lebih sering terdengar suara motor yang di gas sembarangan, itu berisik,” jelasnya. Jadi, Misbah lebih menyukai nongkrong disini saat hari biasa. Disamping suasana yang tenang, ia juga lebih sering kesini karena harga untuk makanan dan minuman yang ditawarkan lebih murah daripada harga yang ditawarkan saat ngopi di tempat lain di Kota Batu. (Mar).

Bagikan Artikel Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •