ASAL USUL DESA PESANGGRAHAN

Pesanggrahan pada zaman dahulu merupakan sebuah tempat dimana para Petinggi Kerajaan beristirahat dalam perjalanannya. Konon para Raja, Ratu, Adipati dan Punggawa Kerajaan  Mataram bersama para istri dan selirnya sering melaksanakan permandian di sumber mata air panas Songgoriti dan kemudian beristirahat atau “Mesanggrah” [bahasa Jawa] di daerah yang sekarang adalah Desa Pesanggrahan.

Letak geografis wilayah Pesanggrahan yang berada di kaki lereng Gunung Panderman dengan panorama yang indah serta hawanya yang sangat sejuk saat itu memiliki daya tarik tersendiri bagi siapapun yang sedang dalam perjalanan untuk beristirahat di tempat ini, seiring berjalannya waktu akhirnya daerah ini dinamakan “DESA PESANGGRAHAN”

Dalam perkembangannya, tingkat pertambahan penduduk yang meningkat dengan perkembangan sosial budaya masyarakat yang semakin tinggi dengan norma kehidupan masyarakat yang diatur berdasarkan tatanan pemerintahan berksala lokal, Desa Pesanggrahan terbagi menjadi beberapa wilayah kecil yang disebut “Dusun” dengan nama yang juga diambil dengan mengikuti sejarah asal-usul dusun masing-masing.

Tuyomerto atau Seruh/Seruk, dahulu merupakan daerah pegunungan dengan perkebunan jeruk dan kopi. Karena letaknya yang berada di daerah pegunungan sehingga banyak terdapat binatang buas yang berkeliaran di daerah tersebut seperti harimau, rusa, babi hutan dll. Pada areal hutan dan perkebunan ini masyarakat sekitar sering menjumpai bekas garukan “Serutan“ [bahasa Jawa] jejak kaki harimau di tanah, dan pada malam hari seringkali terdengar bunyi raungan harimau yang sangat seru [bahasa Jawa], dalam kosakata bahasa Indonesia “Seru” memiliki arti “melolong keras”. Dari suara raungan harimau serta garukan/serutan harimau tersebut, pada akhirnya masyarakat menyebut daerah itu dengan nama Dusun “Seruh/Seruk.”

Pada tahun 1973 dengan kondisi tingkat sosial ekonomi masyarakat di daerah ini yang mulai berkembang, maka atas prakarsa seorang petugas Dinas Pengairan Kabupaten Malang yang bernama Iskhak, masyarakat diajak mandiri secara swadaya berusaha keras menanggulangi permasalahan masyarakat yang saat itu sedang mengalami krisis air, dengan upaya membangun jaringan instalasi saluran air yang berasal dari lereng selatan Gunung Panderman tepatnya di daerah padang rumput Cemoro Kandang.

Dengan terealisasinya pembangunan jaringan instalasi tersebut maka melimpahlah sarana air minum di daerah ini. Karena kondisi melimpahnya debit air inilah, maka akhirnya nama “Dusun Seruh/Seruk” dengan kesepakatan masyarakat setempat berubah nama menjadi “Dusun Tuyomerto”.

Dusun Wunucari terletak disebelah utara dan berbatasan dengan Dusun Srebet. Pada mulanya dusun ini adalah sebuah wilayah dusun kecil yang sangat banyak ditumbuhi pepohonan besar dan rindang, diantara banyaknya pepohonan tersebut terdapat satu pohon yang paling besar yang konon masyarakat menyebutnya kala itu dengan nama pohon “Wunut“, sehingga pada akhirnya sebutan “Wunut” tersebut dipakai sebagai nama daerah ini yaitu “Dusun Wunucari.”

Kata “Srebet”, berasal dari bahasa Jawa “Semrebet“, dalam kosakata bahasa Indonesia kata tersebut bersinonim dengan kata “Semerbak” yang memiliki makna “menebar/semerbaknya aroma harum/wangi.” Adapun versi masyarakat yang lain mengatakan bahwa makna kata “Semrebet“ adalah diambil dari sebuah bunyi baju jarik seorang perempuan yang pada saat berjalan berbunyi “Brebat-brebet“ [bahasa Jawa].

Akhirnya nama Dusun Srebet diambil dari perpaduan dua versi pemahaman yaitu menebarnya [Semrebet] aroma harum dan bunyi [Brebat-brebet] baju jarik seorang perempuan yang diyakini oleh warga masyarakat sebagai orang yang berjasa membuka/Bedah Kerawang Dusun Srebet, pada umumnya masyarakat menyebutnya dengan sebutan “Mbah Nyai Ageng Maimunah Mayangsari.”

Sejarah tentang kisah biografi dan asal-muasal tokoh yang diyakini masyarakat setempat sebagai salah seorang pengikut Pengeran Diponegoro tersebut hingga kini masyarakat tidak ada yang dapat menerangkannya, dan petilasan yang berupa “Makam atau Pesarean“ beliau yang berada di Jl. Cempaka Gang Pesarean selalu diziarahi atau dikunjungi masyarakat baik dari dalam maupun luar desa/Kota Batu.

Dusun Krajan/Pesanggrahan tepatnya berada disekitar Balai Kota Batu [sekarang ini]. Dusun ini dinamakan “Pesanggrahan” atau “Krajan“, asal kata singkatan dari “Kerajaan“ yang diambil dari kisah bahwa di tempat inilah pada zaman dahulu para Raja, Adipati dan Pembesar Kerajaan beristirahat melepas kelelahan dalam perjalanannya.

Fakta sejarah hingga kini bahwa di daerah ini terdapat banyak berdiri fasilitas peristirahatan yang berupa hotel dan villa.

Pada zaman dahulu di daerah ini telah hidup seorang ulama yang menyebarkan ajaran agama Islam, masyarakat menyebutnya dengan nama “Kyai Matsari” [bahasa Jawa], asal kata sebutan nama beliau tersebut berasal dari bahasa Arab yaitu “Kyai Akhmad Asy’ari.” Pada masa itu beliau telah mendirikan sebuah tempat pendidikan agama berupa pesantren sebagai tempat beliau mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.

Karismatik beliau sebagai seorang ulama yang mengajarkan agama islam telah membawa perubahan masyarakat di daerah tersebut menjadi daerah santri, sehingga yang pada akhirnya nama beliau dipakai sebagai nama dusun tersebut yaitu “Akhmad Asy’ari” masyarakat melafalkan dengan sebutan “Matsari” kemudian dilafalkan dengan lebih mudah menjadi “Macari” atau masyarakat saat itu sering pula menyebut daerah ini dengan sebutan “Dusun Pesantren” yang letaknya kini di sebelah timur Balai Kota Batu.

SEJARAH KEPEMIMPINAN DESA PESANGGRAHAN

NO

KEPALA DESA

PERIODE JABATAN

1

BUANG

1859 – 1881

2

PAIDIN

1881 – 1882

3

DARNO

1882 – 1892

4

KERTO SINGO KERTO

1892 – 1902

5

WONGSO REJO

1902 – 1909

6

MARDJAN AMAT REDJO

1909 – 1943

7

YAHDI

1943 – 1945

8

TRIMURTI WIRJO WISASTRO

1945 – 1967

9

YOSEPH KAERUN (Pj)

1967 – 1968

10

WIRJO TARUNO

1968 – 1978

11

RAMELAN (Pj)

1978 – 1979

12

MOCH. RIFA’I

1979 – 1988

13

TAMAT

1988 – 1990

14

SOEJITNO

1990 – 1998

15

SULIYANAH (Pj)

1998 – 1999

16

Drs. H. ISMAIL HASAN, MM.

1999 – 2008

17

ANAM SUYANTO

2008 – 2014

18

ANAM SUYANTO (Pj)

2014 – 2016

19

IMAM WAHYUDI, S.Pd

2016 – sekarang